Syukuran Deklarasi PC GEMIRA Kabupaten Banyumas

Posted by Angga Bawor on Saturday, September 22, 2012


Purwokerto – GERAKAN MUSLIM INDONESIA RAYA  ( GEMIRA ) yang melakukan deklarasi Pimpinan Cabang (PC) Kabupaten Banyumas pada hari jum’at 21 September 2012. Acara dipusatkan di Kantor DPC Partai Gerindra, Jalan Pemuda Purwokerto.
Pengukuhan DPD, DPC, PAC dan Sayap Partai Gerindra
Pimpinan Cabang GEMIRA Banyumas, Ahmad Abdulloh mengklaim sebagai yang pertama di Jawa Tengah. Pria yang sebelumnya akrab dengan sapaan Gus Dulloh itu dikukuhkan secara simbolis langsung oleh Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Letjend (Purn) Prabowo Subianto di Semarang.
Gus Dulloh yang juga salah satu kader muda NU menekankan, kehadiran GEMIRA di Banyumas menjadi symbol perjuangan umat muslim. Tidak hanya pada ranah politik, tetapi juga pada sector pengabdian kepada masyarakat. Mengingat GEMIRA akan lebih focus pada kegiatan social Partai Gerindra.
“GEMIRA Banyumas dari cabang, kecamatan hingga desa akan bahu membahu dalam kerja social kemanusiaan Partai Gerindra,” kata putera dari salah satu ulama besar Banyumas KH. Ahmad Sobri, Jatilawang tersebut.
GEMIRA juga mencerminkan terpadunya angkatan muda dan tua. Yakni dengan masuknya Ir H. Sadar Subagyo dan Drs H. Tarsun, MM dalam jajaran Pembina. Sementara Gus Dulloh mendapat back up dari Sekretaris Kirtam, SH dan Bendahara Heri Waluyo, SE. Secara khusus GEMIRA akan memberikan amal bakti kepada Bangsa dan Negara yang berjuang untuk tegaknya Pancasila, UUD 1945 dan utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Selain Bapak Prabowo, GEMIRA Banyumas juga mendapat restu dan back up langsung dari Pimpinan Pusat Habib Mahdy Alatas. Kita akan focus pada kerja social dan menjadi back up system Partai Gerindra,” terang Gus Dulloh lagi. Sementara dalam peta politik, GEMIRA denga 27 pimpinan anak cabang (PAC) dipastikan berperan signifikan. Termasuk dalam memenangkan Gerindra di Pilkada Banyumas 2013, Pemilu 2014 dan mengantarkan Letjend (Purn) Prabowo Subianto menuju RI 1.
“Dalam Pilkada 2013 kita akan buktikan GEMIRA sebagai kekuatan signifikan, siap dengan relawan-relawan untuk memenangkan Gerindra,” tegas Gus Dulloh yang juga pecinta music metal tersebut. 
More aboutSyukuran Deklarasi PC GEMIRA Kabupaten Banyumas

Sejarah Terbentuknya Partai Gerindra

Posted by Angga Bawor on Tuesday, September 18, 2012


Bermula dari Keprihatinan, Partai Gerindra lahir untuk mengangkat rakyat dari jerat kemelaratan, akibat permainan orang-orang yang tidak peduli pada kesejahteraan.


Dalam sebuah perjalanan menuju Bandara Soekarno-Hatta, terjadi obrolan antara intelektual muda Fadli Zon dan pengusaha Hashim Djojohadikusumo. Ketika itu, November 2007, keduanya membahas politik terkini, yang jauh dari nilai-nilai demokrasi sesungguhnya. Demokrasi sudah dibajak oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan memiliki kapital besar. Akibatnya, rakyat hanya jadi alat. Bahkan, siapapun yang tidak memiliki kekuasaan ekonomi dan politik akan dengan mudah jadi korban. Kebetulan, salah satu korban itu adalah Hashim sendiri. Dia diperkarakan ke pengadilan dengan tudingan mencuri benda-benda purbakala dari Museum radya Pustaka, Solo, Jawa tengah. “Padahal Pak Hashim ingin melestarikan benda-benda cagar budaya,“ kata Fadli mengenang peristiwa itu. Bila keadaan ini dibiarkan, negara hanya akan diperintah oleh para mafia. Fadli Zon lalu mengutip kata-kata politisi inggris abad kedelapan belas, Edmund Burke: The only thing necessary for the triumph [of evil] is for good men to do nothing.” Dalam terjemahan bebasnya, “kalau orang baik-baik tidak berbuat apa-apa, maka para penjahat yang akan bertindak.“ terinspirasi oleh kata-kata tersebut, Hashim pun setuju bila ada sebuah partai baru yang memberikan haluan baru dan harapan baru. tujuannya tidak lain, agar negara ini bisa diperintah oleh manusia yang memerhatikan kesejahteraan rakyat, bukan untuk kepentingan golongannya saja. Sementara kondisi yang sedang berjalan, justru memaksakan demokrasi di tengah himpitan kemiskinan, yang hanya berujung pada kekacauan.


Gagasan pendirian partai pun kemudian diwacanakan di lingkaran orang-orang Hashim dan Prabowo. Rupanya, tidak semua setuju. Ada pula yang menolak, dengan alasan bila ingin ikut terlibat dalam proses politik sebaiknya ikut saja pada partai politik yang ada. Kebetulan, Prabowo adalah anggota Dewan Penasihat Partai Golkar, sehingga bisa mencalonkan diri maju menjadi ketua umum. Namun, ketika itu Ketua Umum Partai Golkar Jusuf Kalla adalah wakil presiden mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Mana mau Jusuf Kalla memberikan jabatan Ketua Umum Golkar kepada Prabowo?” kata Fadli.


Setelah perdebatan cukup panjang dan alot, akhirnya disepakati perlu ada partai baru yang benar-benar memiliki manifesto perjuangan demi kesejahteraan rakyat. Untuk mematangkan konsep partai, pada Desember 2007, di sebuah rumah, yang menjadi markas IPS (Institute for Policy Studies) di Bendungan Hilir, berkumpulah sejumlah nama. Selain Fadli Zon, hadir pula Ahmad Muzani, M. Asrian Mirza, Amran Nasution, Halida Hatta, Tanya Alwi dan Haris Bobihoe. Mereka membicarakan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) partai yang akan dibentuk. “Pembahasan dilakukan siang dan malam,” kenang Fadli. Karena padatnya jadwal pembuatan AD/ART , akhirnya fisik Fadli ambruk juga. Lelaki yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif di IPS ini harus dirawat di rumah sakit selama dua minggu.


Fadli tidak tahu lagi bagaima-na kelanjutan partai baru ini. Bahkan dia merasa pesimistis bahwa gagasan pembentukan partai baru itu akan terus berlanjut. Namun diluar dugaan, ketika Hashim datang menjenguk di rumah sakit, Hashim tetap antusias pada gagasan awal untuk mendirikan partai politik. Akhirnya, pembentukan partai pun terus dilakukan secara maraton. Hingga akhirnya, nama Gerindra muncul, diciptakan oleh Hashim sendiri. Sedangkan lambang kepala burung garuda digagas oleh Prabowo Subianto.


Pembentukan Partai Gerindra terbilang mendesak. Sebab dideklarasikan berdekatan dengan waktu pendaftaran dan masa kampanye pemilihan umum, yakni pada 6 Februari 2008. Dalam deklarasi itu, termaktub visi, misi dan manifesto perjuangan partai, yakni terwujudnya tatanan masyarakat indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis, adil dan makmur serta beradab dan berketuhanan yang berlandaskan Pancasila sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD NRI tahun 1945.


Budaya bangsa dan wawasan kebangsaan harus menjadi modal utama untuk mengeratkan persatuan dan kesatuan. Sehingga perbedaan di antara kita justru menjadi rahmat dan menjadi kekuatan bangsa indonesia. Namun demikian mayoritas rakyat masih berkubang dalam penderitaan, sistem politik kita tidak mampu merumuskan dan melaksanakan perekonomian nasional untuk mengangkat harkat dan martabat mayoritas bangsa indonesia dari kemelaratan. Bahkan dalam upaya membangun bangsa, kita terjebak dalam sistem ekonomi pasar. Sistem ekonomi pasar telah memporak-porandakan perekonomian bangsa, yang menyebabkan situasi yang sulit bagi kehidupan rakyat dan bangsa. Hal itu berakibat menggelembungnya jumlah rakyat yang miskin dan menganggur. Pada situasi demikian, tidak ada pilihan lain bagi bangsa indonesia ini kecuali harus mencip-takan suasana kemandirian bangsa dengan membangun sistem ekono-mi kerakyatan.


Nah, Partai Gerindra terpanggil untuk memberikan pengabdiannya bagi bangsa dan negara dan bertekad memperjuangkan kemakmuran dan keadilan di segala bidang.

 

Kisah Gerindra dan Kepala Garuda

 

Memberi nama partai politik gampang-gampang susah. Karena nama partai berkaitan dengan persepsi yang akan diingat oleh masy-arakat selaku konstituen. Sebelum nama Gerindra muncul, para pendiri partai ini seperti Prabowo Subianto, Hashim Djojohadikusumo, Fadli Zon dan Muchdi Pr juga harus memikirkan nama yang tepat. Ketika itu di Bangkok, Thailand, mereka berkumpul untuk acara Sea Games Desember 2007, demi mendukung tim indonesia, terutama polo dan pencak silat yang berhasil lolos untuk dipertandingkan di sana.


Kebetulan Prabowo adalah ketua IPSI (Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia). Namun ajang kumpul-kumpul tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membahas nama dan lambang partai. Nama partai harus mem-perlihatkan karakter dan ideologi yang nasio-nalis dan kerakyatan sebagaimana manifesto Gerindra. tersebutlah nama “Partai Indonesia Raya”. Nama yang sebenarnya tepat, namun sayang pernah digunakan di masa lalu, yakni PIR (Partai Indonesia Raya) dan Parindra. “Kalau begitu pakai kata GERAKAN, jadi Gerakan Indonesia Raya,” ucap Hashim penuh semangat. Peserta rapat pun kemudian menyetujuinya. Selain gampang diucapkan, juga mudah diingat: Gerindra, begitu bila disingkat. Nah, setelah persoalan nama selesai, tinggal soal lambang. Lambang apa yang layak digunakan?


Muncul ide untuk menggunakan burung garuda. Namun, ini lambang yang sudah banyak digunakan partai lain. apa-lagi simbol Pancasila yang tergantung di dada garuda, mulai dari bintang, padi kapas, rantai, sampai kepala banteng dan pohon beringin, sudah digunakan oleh partai yang ada sekarang. Untuk menemukan lambang yang tepat, Fadli Zon mengadakan survei kecil-kecilan.


Hasilnya, sebagian masyarakat justeru menyukai bila Gerindra menggunakan lambang harimau. Harimau adalah binatang yang sangat perkasa dan menggetarkan lawan bila mengaum. Namun, Prabowo memiliki ide lain, yakni kepala burung garuda, ya hanya kepalanya saja. Gagasan itu disampaikan oleh Prabowo sendiri, yang juga diamini oleh pendiri partai yang lain.


Maka jadilah Partai Gerindra yang kita kenal sekarang. Perpaduan antara nama dan lambang yang tepat, sebab keduanya menggambarkan semangat kemandirian, keberanian dan kemakmuran rakyat. Kepala burung garuda yang menghadap ke kanan, melambangkan keberanian dalam bersikap dan bertindak. Sisik di leher berjumlah 17, jengger dan jambul 8 buah, bulu telinga 4 buah, dan bingkai gambar segi lima yang seluruhnya mengandung arti hari kemerdekaan, 17-8-1945. Dalam perjalanannya kemudian, terbukti, Gerindra mendapatkan tempat di hati masyarakat, meski berusia muda. Ketika iklan kampanye gencar dilakukan, burung garuda dan suaranya ikut memberi latar belakang sehingga para penonton merasa tergugah dengan iklan tersebut.

(www.partaigerindra.or.id)

More aboutSejarah Terbentuknya Partai Gerindra

Visi dan Misi

Posted by Angga Bawor on Monday, September 17, 2012


Azas

GEMIRA berazaskan Pancasila dan Undang - Undang Dasar 1945

Jati Diri

Organisasi ini memiliki Jati diri yang bersifat terbuka bagi seluruh warga Negara Republik Indonesia, beragama Islam, berjiwa Kebangsaan, Kerakyatan serta Keadilan Sosial.

 

Watak

Watak organisasi sayap GEMIRA sesuai dengan watak Partai GERINDRA  yaitu : Demokratis, Merdeka, Pantang Menyerah, Berpendirian dan Terbuka. 

 


VISI DAN MISI

 

Visi

Mengawal perjuangan Partai GERINDRA dalam mewujudkan kemandirian bangsa dan mensejahterakan rakyat.

Misi

1.  Membangun potensi masyarakat yang berkepribadian dan peduli terhadap permasalahan bangsa guna terwujudnya kemandirian bangsa dan kesejahteraan rakyat Indonesia.
2.  Turut serta melahirkan pemimpin yang beriman dan bertaqwa, jujur, berani, tegas dan berkemampuan  dalam menjalankan tugas.
3.   Berperan aktif dalam mengawal kerja Partai GERINDRA untuk memenangkan pemilihan umum.


Sumber : www.gemira.or.id

More aboutVisi dan Misi